Rubah dan Keegoisan di Dunia
"Pada akhirnya ... semua manusia ujung-ujungnya egois ga sih?"
Singkat cerita, Gaby sedang menyelesaikan tugas pertama Online Learning. Sembari meregangkan otot, aku baru ingat kalau tadi malam aku mengupload Question Box di Snapgram. Dan yak, aku mengeceknya dan ini adalah pernyataan pertama yang menarik perhatianku.
Hm, egois ya?
Aku jadi teringat masa kecilku.
Sebagai anak-anak, aku tumbuh sebagai seorang yang cukup keras kepala dan egois. Aku ingat bagaimana aku memaksa adik sepupuku untuk ikut pulang ke rumahku dan bermain. Saking keras kepalanya, aku sampai menangis meraung-meraung sementara Ia menggeleng kesal.
Aku ingat betapa mudahnya aku merajuk ketika sepupu-sepupuku yang lebih tua bercanda. Agak lucu kalau dipikir, karena sekarang aku sangat tidak menyukai balita yang mudah merajuk.
Aku ingat sekali tidak ingin membagi sepotong dari dua potong pizza untuk Koko (kakak laki-laki)ku. Padahal waktu itu dia terlambat bangun dan tidak sempat sarapan. Apakah hari itu dia mengikuti pelajaran dengan perut keroncongan? Demi pikiran dan rasa bersalah itu, aku berjanji akan membelikan makanan apapun yang Koko mau bila aku memiliki uang.
Aku ingat setiap kali melewati toko boneka, aku akan merengek, memonyongkan bibir selama yang kubisa demi sekotak Barbie, si boneka pirang rupawan. Astaga, padahal sekarang untuk membeli sesuatu saja mikirnya panjang sekali.
Banyak hal memalukan terjadi selama aku balita. Saat semua terputar ulang, jujur saja, rasanya geli. Namun, di sisi lain, rentetan pengalaman itu sudah menunjukkan perjalananku; tumbuh kembang akal dan budi, kompleksitas pikiran, dan banyak hal lain. Semua perilaku itu sangat kusesali. Setiap kali teringat, rasanya aku mau mendatangi mereka satu-satu dan bersujud mohon maaf (Tidak bisa dilakukan tentunya karena mereka belum tentu mengingatnya dan semuanya semakin memalukan). Memang perilaku lawas itu tak bisa diubah, tetapu setidaknya mereka akan terus menyentil diriku. Mengingatkanku agar bersikap lebih dewasa, bertingkah lebih baik, dan melihat lebih luas.
Ah, tapi setelah dilihat, pemikiran balita sesederhana itu ya? Minta untuk mendapat. Jika tidak berhasil, mengamuklah.
Balita melakukan itu karena mereka belum paham bukan? Mereka belum paham kalau Barbie dan Ken di etalase itu bernilai beberapa lembar uang yang didapatkan dari hasil kerja keras Ayah dan Ibu. Itulah mengapa bimbingan itu diperlukan.
Wahai orang tua, jangan mengelak ketika disarankan untuk mengajari anak-anak dengan alasan, "Ah, mereka masih kecil kok." Penjelasan agar balita paham itu penting agar mereka bertumbuh menjadi pribadi yang lebih memahami dunia sekitar, yang menghargai uang, dan tidak semena-mena mempergunakannya.
Eh, baiklah Gaby, tetapi sepertinya kita mulai melenceng dari topik. *mengerjap bingung* Astaga, iya ya. Baiklah, aku harap kamu masih punya cemilan lebih karena petualangan kita akan panjang.
Ya, balita bisa jadi egois. Namun, sadarkah bahwa banyak dari kita, kaum remaja, dewasa, maupun yang berumur bersikap egois?
Kita bersaing dengan harapan orang lain akan terjatuh.
Kita terus menatap ke bawah. Merasa kita sudah menjadi yang tertinggi.
Kita terus menatap ke atas, mengasihani diri yang tak kunjung meninggi.
Kita terus menjebak diri di dalam ketidakpuasan dan pikiran negatif, bahkan menolak ketika hendak ditolong ke dalam cahaya.
Kita menolak untuk mendengarkan permohonan dan ringisan orang lain karena kita merasa menjadi manusia dengan masalah terberat.
Kita marah dan terus marah kepada orang sekitar ketika kemarahan yang sebenarnya justru tertuju kepada diri sendiri.
Kita mengurung rasa kemanusiaan dengan dalih pasti ada orang lain yang akan membantu sesama.
Tanyalah kepada dirimu sendiri, "Apa kita pernah egois?"
Lalu list di atas akan bertambah panjang.
Terkadang sebagai manusia, kita tak segan untuk mengembangkan keegoisan kita. Mengira keegoisan akan membantu kita, mengangkat kita. No no, Darling. Keegoisan telah membuat hati kita dingin. Keegoisan sudah membuat kemanusiaan menguap.
Tidak mungkin. Ya, Darling. Itu mungkin.
Ibu Bumi yang setiap hari semakin meranggas karena rambut hijau segarnya terus dipangkas tanpa ampun.
Ekskusivisme yang tertanam dalam benak ras tertentu yang membawa manusia pada diskriminasi, keributan, perpecahan, bahkan peperangan.
Pejabat koruptor ternama yang jas dan dasinya semakin mengilap sementara piring rakyatnya semakin berdebu.
Tingginya tingkat perundungan karena adanya oknum yang mementingkan kepuasan batin dengan menindas orang-orang.
Meningkatnya persenitas dalam keluarga karena tidak ada yang mau menggeser tembok ego untuk berdiskusi secara baik-baik.
Buka mata kalian! Jangan biarkan keegoisan juga menghalangi kita. Keegoisan sudah menggiring kita ke jalan yang salah dan kita tahu itu benar. Keegoisan sudah membuat peradaban kehidupan kritis.
Benar, pada akhirnya, kita semua (pernah atau sedang) egois.
Tapi Gab, aku egois dengan tidak makan banyak untuk menurunkan berat badan. Bukankah itu berarti egois membawa kebaikan? Egois dan menahan diri itu berbeda, Darling. Also, a little note there, tolong jangan over memaksakan diri dalam diet. Diet yang sehat itu tidak membuat kalian mendadak pingsan terus tipes. Justru diet yang seperti itu cenderung tidak bertahan lama karena tidak menjadi lifestyle alami. Semangat boleh, egois jangan. Kasihani dirimu sendiri. Kamu sudah hebat kok dengan berat tubuh yang perlahan turun maupun naik (dalam kasus bulking). Semangat!
Oke,kembali lagi.Menurutku, egoisme itu hanya bikin hidup repot. Iya repot!
Coba deh kita bawa ke bahasa yang lebih ringan.
Saat bersaing, kenapa kita tidak berharap kalau kita bisa sukses bersama saja? Bukankah menyenangkan bisa memiliki teman bercakap dan bersenda-gurau di tingkat teratas?
Saat berteman, bukankah ramai untuk berteman dengan siapa saja? Untuk apa sih melihat warna kulit, agama, harta, suku, dan sejenisnya? Toh, kita bukan berteman dengan kulitnya atau hartanya. Kita berteman dengan orangnya, dengan kepribadiannya!
Saat muncul perbedaan pendapat, dibanding langsung defensif dan membalas, mengapa kita tidak duduk santai dan mendengarkan satu sama lain terlebih dahulu? Gunakanlah bahasa yang baik dan mudah dipahami. Dibanding dengan berteriak satu sama lain, bukankah cara ini lebih melegakan untuk menyelesaikan masalah?
Saat teman mengeluhkan masalah, dibanding memojokkan mereka dengan perkataan, "Ah, aku sudah pernah mengalami yang lebih menyedihkan!" atau "Kamu terlalu cengeng!", mengapa tidak kita dengarkan dahulu? Mengapa tidak kita tepuk dia ketika nadanya mulai tercekat, ketika air matanya mulai menetes? Aku tidak tahu dengan kalian, tapi aku merasa jauh lebih berbahagia ketika temanku berhasil mengeluarkan uneg-unegnya dan bisa tersenyum lega. Dengan itu, persahabatan kita lebih kuat. Kita juga akan memiliki tempat bercengkerama ketika diperlukan.
Tapi kan kita sebagai manusia memiliki keegoisan yang natural!
Itu maksudku! Mungkin kita merasa menjadi egois adalah tembok pertama yang harus digunakan untuk melindungi diri dari masalah. Itu tertanam karena kita sudah terbiasa. Oleh karena itu, ini waktunya kita latihan untuk menahan diri agar tidak refleks mengagungkan diri. Agar bisa melihat dunia dengan lebih luas.
Aku sendiri sudah lelah melihat masalah duniawi yang pangkal masalahnya sederhana. Karena egois! Aku gerah dikelilingi keegoisan!
Mungkin aku terlalu muda untuk memahami dunia. Masih terlalu naif kalau kata orang. Aku pun tidak heran kalau tulisan ini nanti ditertawakan. Namun, apa sih salahnya merendah sedikit?
Dengan belajar tidak egois, dunia akan terasa lebih indah. Jika dulu kita selalu menatap kebun bunga anggrek tetangga dengan iri, sekarang kita bisa sadar kalau bunga matahari kita pun bisa seindah itu dengan air dan pupuk yang cukup. Banyak hal yang dulu seakan tersembunyi, akan timbul dengan sendirinya.
Pada akhirnya, memang kita semua egois. Hanya diri kita sendiri yang bisa melenyapkan perasaan itu. Tak usah takut, gengsi, ataupun malu karena orang yang berani melapangkan hatinya adalah orang yang jauh lebih hebat dibandingkan dengan orang yang bangga dengan mahkota keegoisannya.
Proses perubahan tidaklah mudah, tetapi aku akan terus berjuang dan pasti berhasil!
Sekian tulisanku untuk hari ini. Bagaimana pendapat kalian tentang topik di atas? Mari berdiskusi! Terima kasih telah menemaniku berpetualang. Sekarang minum air dan makanlah bila lapar. Setelah itu, pakailah waktu untuk beristirahat sejenak. Kamu akan membutuhkan tenaga itu nanti.
Terima kasih juga untuk kakak kelasku yang sudah mengutarakan kalimat di atas. Mohon maaf kalau ada kata yang kurang berkenan atau pembahasannya malah melenceng. Hope the best for your university life!
Spread love, not hate. Make friends, not wars. See you later!
Komentar
Posting Komentar