Rubah, Ketiga Kaktus, dan Steorotipe
Bambang, Tomi, dan Freor.
Mereka adalah ketiga mantanku. Ralat, mantan kaktus. Ini adalah kisah awalku bertemu mereka.
Sebenarnya tumbuhan kaktus memang sudah menarik perhatianku sejak lama. Nah, mari kita mundur satu minggu sebelum ketiga kaktus ini berkumpul. Pada saat pertengahan UTS kelas 7 atau 8 SMP, aku dan temanku, Nila disibukkan oleh proyek Prakarya yang belum selesai. Kami diharuskan untuk membuat pot dari pecahan keramik. Yah, tidak bisa dikatakan membuat pot juga karena lebih ke arah melapisi pot dengan kepingan keramik dan semen.
Saat itu, guru kami mewajibkan agar potnya diisi oleh tumbuhan. Setelah pembagian tugas, aku yang mendapat tugas untuk membeli tumbuhan. Apa yang kubeli? Kaktus tentu saja. Lucunya, si kaktus baru ini terlampau kecil jika dibandingkan dengan si pot.
"Gak apa deh. Yang penting ada isinya," kata Nila. Oke sip.
Konon orang tua berkata, jangan memberi sebutan untuk seseorang atau Ia akan membekas dalam di hatimu. Itu yang terjadi kepadaku. Berawal dari candaan kami yang memberi nama kaktus ini Bambang, akhirnya aku malah gemas sendiri. Kaktus lucu sekali hei!
Sayang sekali, Bambang tidak sempat menetap di kamarku yang nyaman dan indah. Karena takdirnya tinggal bersama pot prakarya yang harus dikumpulkan, aku pun harus rela membiarkannya pergi dan hidup di dunia baru. Terakhir kali aku melihat dia ada di depan sekolah. Aku berharap dia masih bertahan hidup, tetapi entahlah.
Satu minggu kemudian, keinginan memiliki sebuah tanaman kembali muncul. Akhirnya, muncullah si kaktus kedua. Kaktus ini memiliki bentuk tubuh yang sejenis dengan Bambang. Namun, dia sedikit lebih tinggi jika dibandingkan dengan Bambang. Dia kuberi nama Tomi tanpa alasan khusus.
Aku juga diberi satu kaktus lain lagi yang bentuknya unik. Mereka seperti bonggol kembar yang salah satunya lebih tinggi. Kali ini aku memutuskan untuk berpikir secara mendalam dan menamakan mereka Freor dari nama Fred dan George Weasley, kembar favoritku dari serial Harry Potter. Sangat menarik meelihat mereka bertumbuh setiap harinya. Yang awalnya seperti bola, perlahan melancipkan diri. (Spoiler: Fred membusuk terlebih dahulu persis seperti di film, maaf.)
(Terima kasih Josephine untuk gambaran lucunya. Maaf aku baru mengunggah tulisan ini enam tahun kemudian ...)
Selama aku merawat mereka, ada satu kalimat yang menjengkelkanku. "Jangan pelihara kaktus di rumah. Katanya bisa membawa duri di dalam rumah tangga."
Whot? Aku membulatkan mata. Stereotipe dari mana ini? Ternyata setelah aku berselancar di Google, steorotipe ini memang ada, salah satunya dari daftar feng shui. Oke, aku menghormati kepercayaan orang lain, tetapi aku memiliki kepercayaan sendiri dan aku percaya kalau kaktus memiliki hak yang sama dengan tanaman lain untuk disiram dan disayang. Lagipula di balik feng shui ada alasan logis yang menyatakan kenapa kaktus sebaiknya ditaruh di beberapa bagian tertentu rumah, bukan di bagian lain. Yang berarti, tidak serta merta ada kutukan dalam kaktus sehingga tidak disarankan.
Ada juga pengalaman lain yang serupa, yakni dengan kucing hitam. Aku sangat menyukai kucing, sama sukanya dengan anjing. Hanya saja, aku tidak boleh memelihara kucing di rumah. Oleh karena itu, aku hanya bermain dengan kucing di perumahan tempat rumah lamaku, kampus, dan rumah teman. Aku suka kucing karena kemanjaan mereka dan suaranya yang menggemaskan. Jadi, jangan kaget kalau melihatku berlutut setengah jam hanya untuk mengelus kucing.
Suatu kali, ketika aku berjalan bersama beberapa teman, aku bertemu dengan seekor kucing hitam yang ramah. Ramahnya bukan seperti manusia yang menyapa sana-sini "Hai, halo gais." tentu saja. Ia mengeong dan langsung mendatangiku. Untukku, dihampiri oleh makhluk hidup lain itu rasanya seperti disayang. Sungguh bahagialah diri ini saat itu.
Baru saja senang, sudah ada celetukan yang membanting semangat. "Ih ngapain dekat-dekat dengan kucing hitam? Pembawa sial lho itu!" Aku ingat sekali betapa kesalnya aku saat itu. Aku tidak masalah dengan preferensi mereka yang tidak begitu menyukai kucing. Namun, merendahkan makhluk ciptaan Tuhan adalah hal lain. Padahal, menurutku kucing hitam lucu sekali. Matanya yang bulat dan tubuhnya yang serba hitam membuat mereka seperti buntalan hitam yang siap dipeluk. Kucing hitam mirip sekali dengan Toothless, si naga hitam dari film How To Train Your Dragon.
Aku marah akan kehadiran steorotipe dan takhayul di dunia karena seakan-akan melegalkan kita untuk merendahkan makhluk hidup lain. Padahal apalah kita ini selain debu tanah? Bayangkan berapa banyak bayi kucing hitam yang dibuang karena dianggap pembawa sial? Beruntunglah mereka yang diselamatkan ke tempat penampungan, tetapi pikirkan ketika si kucing hitam harus melihat teman-teman mereka diadopsi duluan karena label ini. Belum lagi beberapa yang menghadapi kekerasan dan dijadikan bahan pakan ilegal.
Teman-teman mungkin bingung mengapa aku harus menulis panjang lebar untuk sebuah kaktus dan seekor kucing. Sini aku beri tahu kenapa: karena steorotipe juga berlaku di lembaga masyarakat; di antara kita. Untuk suku, ras, warna kulit, agama, dan gender tertentu.
"Hati-hati berteman dengan suku A. Mereka kasar."
"Jangan berteman dengan C. Biasanya, orang kayak dia pelit."
Hayo, coba kita jujur-jujuran, seberapa sering kamu mendengar hal ini, entah dari keluarga atau teman?
Pernyataan semacam ini mengerikan, Teman-teman, karena menimbulkan tembok tak terlihat dalam masyarakat. Akan ada banyak orang yang tersisihkan. Mereka lebih mungkin untuk dijauhi, direndahkan, dicemooh, dan tidak diperlakukan secara adil. Kita yang berada pada posisi menguntungkan merasa aman karena tidak mendapatkan perlakuan serupa, tetapi bagaimana dengan mereka?
Lalu harus gimana Gab? Kan kita tidak bisa mengubah pandangan orang secara instan?
Menurutku, kita tidak harus langsung berpikir mengubah pikiran orang, melainkan mulai dari diri sendiri. Seharusnya kita belajar untuk memperilakukan orang dengan setara. Kita tidak boleh menghakimi orang berdasarkan steorotipe masyarakat. Namanya label dari steorotipe, itu tidak selalu benar. Steorotipe bukanlah fakta. Kiranya kita tidak menjadikan steoreotipe, takhayul, labelling sebagai ajang untuk bermain "tuhan-tuhanan"; untuk menentukan nilai seseorang atau sesuatu.
Setelah itu, apabila ingin menyebarkan awareness, apa boleh? Tentu saja. Semua aksi akan sangat berharga untuk membawa perubahan. Baik dengan cara menegur orang-orang yang melakukan ketidakadilan ini, menyebarkan tulisan atau gambar terkait, dan banyak lagi.
Mari bersosialisasi dengan bijak. Setiap orang punya kesempatan, sama seperti kaktus dan kucing hitam yang memiliki kesempatan untuk merasakan rumah kasih sayang. Satu kucing hitam mencakarmu bukan berarti semua kucing hitam jahat. Satu kaktus menusukmu bukan berarti semua kaktus diam-diam menyimpan kutukan. Ngomong-ngomong soal itu, aku pernah tertusuk duri kaktus. Namun, akan kusimpan cerita itu untuk post selanjutnya.
In the meantime, spread love, not hate. Make friends, not wars. Sampai jumpa sebentar lagi!
- Gabriela U. Wirahmawan
Komentar
Posting Komentar