Ulasan Rubah: Mulan (2020) dan Mengapa Film Ini Mengecewakan

Hai semua. Apa kabar? Aku harap kalian semua masih sanggup bertahan di tengah dunia ini. Sebelum memulai, aku ingin mengingatkan supaya kalian jangan lupa makan, minum, dan istirahat yang cukup. Bersinar juga butuh tenaga bukan?

Ngomong-ngomong aku sudah tidak sabar menulis ulasan (review) ini karena aku sudah tidak menulis review sejak ... tahun lalu mungkin? Biasanya aku menulis ulasan sederhana buku-buku di akun Instagram rahasiaku tapi mari tidak usah dibahas panjang lebar dan ayo masuk ke ulasannya.

WARNING: MENGANDUNG SPOILER. BAHASA BERCAMPUR ANTARA BAHASA INDONESIA DAN BAHASA INGGRIS.

Mulan, Fa Mulan, Hua Mulan, pahlawan perang wanita yang berhasil menyelamatkan Kekaisaran Tiongkok, pasti semua pencinta Disney mengenalnya. Ia berhasil menyabet hati Gaby Kecil berkat kebadassan, kesetiaan, dan keberaniannya. Melalui film animasi dua dimensi keluaran 1998, Disney berhasil mengangkat isu steorotipe dan dominasi laki-laki yang dipadukan dengan peperangan, kasih keluarga, percintaan, dan komedi ringan. Animasi ini berhasil menginspirasi sekian anak muda untuk tidak membiarkan status dan gender menghalangi jalan menuju kesuksesan. Sebagai seorang-penikmat-yang-bukan-ahli, aku selalu siap meletakkan Mulan (1998) pada posisi teratas, bersanding dengan The Lion King (1994).

"Kalau dijadiin film live action bakal bagus banget sih ini," ujar Papa yang merupakan pencinta film silat dan teman-temannya. Aku mengangguk setuju dan aku yakin banyak dari kalian yang juga mengangguk.

Lalu, mengapa setelah sekian tahun menunggu, bahkan sampai tertunda oleh pandemi, film remake Mulan pada tahun 2020 justru membawa gelombang kekecewaan dan kemarahan? Apa yang membuat Mulan (2020) tidak senyaman versi 1998nya? Setelah ini, aku akan mencoba mengupas murni dari sisi penikmat. Mohon maaf aku tidak mendiskusikan isu politisnya karena aku tidak mau membahas sesuatu yang belum aku pahami. Aku juga tidak mau jati diri Mulan malah ternodai oleh pihak tidak bertanggung jawab. Meskipun begitu, aku akan selalu mempelajari isu-isu tersebut dan menentang keras segala bentuk kekerasan dan rasisme.

Jadi, hal pertama yang rasanya sangat salah adalah penggambaran Mulan. Mulan di film ini ditunjukkan sebagai perempuan yang lincah dan kuat sejak kecil karena chi-nya yang besar. Ia jadi harus mati-matian menahan diri agar tidak kelepasan menghajar orang. Meskipun penggunaan chi di sini masuk akal, rasanya berbeda dari The Real Mulan. Mulan pada tahun 1994 tidak kuat secara otomatis. Ya, dia berani dan rela berkorban, tetapi Ia tidak langsung lancar memanjat atap, memegang pedang, dan menghabisi lawan. Bahkan lelaki sekalipun butuh berlatih supaya jago bela diri. Benar kan?

Kedua, penggambaran karakter Ayah dan Ibu Mulan. Maafkan aku, tetapi di live action ini, mereka agak kasar. Di animasi, chemistry Mulan dan ayahnya diukir dengan urutan perkenalan hingga klimaks yang pas. Kita melihat bagaimana sang Ayah menghibur, mendoakan, dan menyemangati putrinya, hingga akhirnya hubungan itu diguncangkan oleh peperangan. Kita merasakan apa yang dirasakan Mulan dalam gejolaknya dengan Sang Ayah. Sayangnya, versi live action tidak terasa senyata dan serelatable itu. Di sana, hubungan mereka cukup intim, tetapi tidak seharu dan sedalam versi animasi. Beberapa bagian malah cenderung tidak natural dan terburu-buru (Si Pakde mendadak marah-marah bahas harga diri? Excoose me, Pakde, ini anak Anda gak ada ngomong apa-apa lho. Aslinya Anda dibentak dulu baru bertengkar sama si Mulan.)

Aku semakin tidak habis pikir kalau membicarakan watak ibunya. Ibu di live action sudah seperti emak julid yang tidak menyukai anaknya euy. Meski hubungan ibu dan anak tidak terlalu ditonjolkan di animasi Mulan, aku rasa hubungan mereka tidak, eh, setoxic itu. Di setiap scene membicarakan Mulan, raut dan nada si Ibu lebih sering cemberut dan sengit. Ia juga terlalu sering mengindikasikan bagaimana Mulan sudah cukup memalukan (scene Mulan dicegat oleh ibunya saat hendak menolong ayahnya yang terjatuh. "Jangan. Kamu akan lebih mempermalukannya." Entahlah, Nyonya Hua. Di sana putri Anda hanya ingin membantu ayahnya kembali berdiri. Bukan memotong *uhuk* pembicaraan *uhuk* lelaki.).

Lalu, esensi lain yang hilang adalah humor. Jika animasi Mulan dibangun dengan penopang, maka penopang-penopang tersebut adalah kasih sayang, aksi bela diri, dan humor. Jika satu penopang ditebang, semuanya akan longsor. Dan menurutku, ini yang terjadi pada live action Mulan 2020. Tim produksi berusaha terlalu keras membuat film ini serius dan penuh aksi hingga scene-scenenya tidak lagi terasa nostalgic. Si adik Mulan with a bubbly personality pun tidak cukup membantu memperbaikinya. Hilangnya Mushu, Cricket, Grandma, dan si sekretaris kaisar laknat itu sukses membuat film ini suram.

Aku rasa mereka sengaja mengambil arah ini agar atmosfernya menjadi seperti The Great Wall atau film bela lain yang serius. Mereka takut kalau humor membuat film ini tidak profesional, terlalu kartunis, atau dalam bahasa kasarnya 'jelek'. Bagaimanapun juga, para direktor dan teman-teman produksi sekalian, aku dibesarkan Papa dengan menonton film silat dan banyak di antaranya mempertunjukkan aksi yang spektakular sekaligus bagian yang membuat kami tertawa terbahak-bahak. Apa artinya? Artinya adalah film aksi masih bisa bagus dengan humor. Don't just use western serious directing ways. Please dive deeper into the Chinesse martial art dramas and films and learn their tactics to elaborate things!

Dan terakhir adalah Si Penyihir. Catatan, aku tidak masalah dengan kehadirannya. Justru aku menyukainya. Yang menjadi permasalahan di sini adalah bagaimana kita terlalu banyak melihat sisi Sang Penyihir sehingga esensi penting kehidupan Mulan malah terpotong. Andaikan perspektifnya lebih difokuskan kepada Mulan, kita bisa melihat interaksi Mulan dengan keluarga dan sekitarnya lebih lama. Jadinya, kita lebih mampu menyatu dengan nilai dan pergolakan hidup Mulan. Bukankah dengan itu, kemungkinan tergugahnya perasaan yang sama saat menonton animasi Mulan menjadi lebih besar? Bukankah dengan itu, hati para penonton menjadi lebih mudah tercuri?

Memang terlalu banyak esensi orisinal Mulan yang menguap sehingga para penonton tidak bisa bernostalgia. Getaran yang ditimbulkan tidak sama seperti saat orang-orang pertama kali melihat animasinya di tahun 1998. Sepertinya tim produksi sengaja membuat sesuatu yang benar-benar berbeda karena di live action sebelumnya, Lion King, mereka diserang karena kisahnya yang seperti jiplak-sama-selesai. Namun, perbedaan yang luar biasa ini malah membuat atmosfernya terlalu cepat dan membosankan. Meskipun begitu, karena ada penikmat yang easy maupun hard to please, akan ada saatnya di mana orang berbeda pendapat dan in my opinion, it is okay.


Kesimpulan dariku adalah:

1. Alur yang dimodifikasi menjadi terburu-buru sehingga tidak terasa natural.

2. Sudut pandang yang tidak seimbang antara tokoh utama dengan tokoh sampingan sehingga aku tidak heran kalau Disney mengubah judul filmnya menjadi 'The Birdy Witch'.

3. Humor, tokoh-tokoh, dan lagu orisinal dari versi animasi yang hilang meninggalkan kehampaan dalam denyut jantung penikmat.

4. Mereka terlalu berusaha keras membuat remake yang bagus sehingga hasilnya justru tidak sesuai ekspetasi. It just don't feel the same anymore.


Tak terpungkiri aku dikecewakan karena berharap untuk merasakan perasaan yang sama seperti saat aku menonton remake lain. Mungkin aku juga yang salah karena terlalu tinggi memasang derajat pada karakter favoritku ini.


Ya, I am not a big fan of this newest version of Mulan. Namun, ada poin-poin luar biasa dari Mulan (2020) yang menggugah perhatian dan minatku seperti:

1. Kita bisa melihat Mulan sejak kecil (meski aku tetap bersikeras kurang menyukai ide chi).

2. Ayah Mulan menjadi pahlawan perang yang kebetulan kawan lama jenderal perang pemimpin pasukan Hua Mulan Jun.

3. Sang Penyihir! Maksudku, selama menonton animasi Mulan, aku tidak pernah menyangka ada orang yang sangat kreatif sampai bisa mengolah burung yang awalnya tidak penting menjadi tokoh berlatar belakang semenarik ini.

4. DONNIE YEN AND HIS ABILITIES GUYS! DONNIE YEN AND HIS ABILITIES!!!

5. Hubungan antara Hua Mulan Jun dan Commander Tung yang terasa hangat sehingga mengisi celah ketidakpuasanku terhadap hubungan Mulan dengan ayahnya.

4. Beberapa perubahan latihan kebugaran yseperti menaiki bukit dengan dua ember penuh air. Selain lebih realistis, menurutku latihan ini juga lebih optimal dalam meningkatkan daya tahan, keseimbangan, kekuatan, dan kelincahan dalam jangka panjang dibandingkan memanjat tiang dengan dua gelang emas.

5. Jason Scott Lee, Anda adalah orang yang luar biasa sempurna untuk Bori Khan.

6. Sinematik yang cukup menarik dan nyaman dipandang.


Aku memang orang yang tidak tegaan dalam menilai sehingga nilai-nilai yang biasanya kuberikan tak jauh dari angka delapan dan sembilan. Sayangnya, Mulan (2020) harus berpuas diri dengan 7,2/10. Yah, setidaknya applause untuk Disney karena berani untuk mencoba. Mulan bukanlah karakter yang gampang untuk direkontruksikan ulang. Sosok orisinalnya sudah terlalu dan akan selalu membekas di hati. Buat kalian yang menyukai film ini, selamat datang di fandom Mulan! Yuk coba tonton versi animasinya juga. Siapa tahu suka!

Pertanyaan terakhirku adalah bagaimana pendapat kalian? Apakah kalian setuju denganku ataukah kalian memiliki pendapat lain? Jika kalian diberi kesempatan untuk membuat ulang Mulan (2020), apa saja yang akan kalian perbaiki? Yuk, tinggalkan komentar dan kita berdiskusi bersama!

Terima kasih sudah mau membaca ulasan dari penikmat-yang-tidak-terlalu-ahli ini. Aku sudah jarang menulis ulasan ataupun esai, jadi mohon maaf apabila bahasanya terkesan kaku. Jika berkenan, aku sangat terbuka terhadap kritik dan saran agar tulisan selanjutnya bisa lebih baik dan masukan tentang apa yang selanjutnya harus kuulas. Sampai jumpa lagi di tulisan selanjutnya!

Every flower blooms in its own time. Just like people. So don't compare yourselves to the others.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rubah, Ketiga Kaktus, dan Steorotipe

Rubah dan Kebimbangannya